Senin, 24 Desember 2012

Cinta (Tanah Air), Suatu Kebodohan?


Petang ini begitu lesu darah, mungkin karena melewatkan makan tadi siang, namun ketika ‘membangunkan’ komputer, tidak tahu ada daya tarik yang tidak dapat ditolak untuk masuk laman kompasiana dan terpaku pada pojok tulisan terbaru yang memuat prosa kompasianer berjudul kutinggalkan cinta yang bodoh.
Tiga kali tulisan tersebut dibaca berulang kali, seraya menandaskan tidak salah mengerti dan salah mengambil kesimpulan sebelum tulisan ini menyelinap mengisi halaman kompasiana. Memang tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan arti cinta yang bodoh, apalagi hendak menyalahkan yang empunya tulisan.
Akan tetapi, saya merasa janggal dengan ungkapan cinta yang bodoh, apalagi cinta dikaitkan dengan tidak memikirkan berapakah biaya melahirkan, tidak memikirkan berapakah biaya pendidikan bagi anak-anak kelak, tidak memikirkan berapa harga beras sekarang, Bahkan memunculkan begitu banyak kesulitan manakala kamu keluar dari box warnet, dan membuat kamu depresi, sebab, dunia nyata tak seindah warna dan layar LCD yang kau cumbui tiap hari.
Sejenak pikiran saya pun terpental, persis manakala cerita lebaran ditulis dan diturunkan di tengah jebakan broadband selain sergapan kemacetan mudik. Apakah kesadaran ‘cinta’ mendasari sebelas tulisan yang muncul, sementara kompasianer lain asyik masyuk dengan keluarga mereka? Ataukah ‘kebodohan’ seperti dimaksudkan oleh kompasianer yang satu ini?
Akhirnya, saya menerawang pada perjuangan manakala bangsa Indonesia di tahun empat puluh lima. Para pejuang mempertaruhkan harta, bahkan nyawa demi ‘cinta tanah air’ yang tidak rela ibu pertiwi dijajah. Kebanyakan pejuang ini harus mati berkalang tanah menjadi tumbal cinta tanah air. Mereka yang sekarang telah ada di pusara tanpa batu nisan atau berada di balik taman makam pahlawan, tahu betul apa arti cinta tanah air sehingga dibela sampai mati.
Apabila cinta harus memperlihatkan imbalan atas pengorbanan yang dikeluarkan sehingga tidak dikatakan kebodohan yang harus ditinggalkan. Lalu, seperti apa cinta yang pintar agar senantiasa berada dalam dekapan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar