Petang ini begitu lesu darah, mungkin karena
melewatkan makan tadi siang, namun ketika ‘membangunkan’ komputer, tidak
tahu ada daya tarik yang tidak dapat ditolak untuk masuk laman
kompasiana dan terpaku pada pojok tulisan terbaru yang memuat prosa
kompasianer berjudul kutinggalkan cinta yang bodoh.
Tiga kali tulisan tersebut dibaca berulang
kali, seraya menandaskan tidak salah mengerti dan salah mengambil
kesimpulan sebelum tulisan ini menyelinap mengisi halaman kompasiana.
Memang tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan arti cinta yang bodoh,
apalagi hendak menyalahkan yang empunya tulisan.
Sejenak pikiran saya pun terpental, persis manakala cerita lebaran ditulis dan diturunkan di tengah jebakan broadband
selain sergapan kemacetan mudik. Apakah kesadaran ‘cinta’ mendasari
sebelas tulisan yang muncul, sementara kompasianer lain asyik masyuk
dengan keluarga mereka? Ataukah ‘kebodohan’ seperti dimaksudkan oleh
kompasianer yang satu ini?
Akhirnya, saya menerawang pada perjuangan
manakala bangsa Indonesia di tahun empat puluh lima. Para pejuang
mempertaruhkan harta, bahkan nyawa demi ‘cinta tanah air’ yang tidak
rela ibu pertiwi dijajah. Kebanyakan pejuang ini harus mati berkalang
tanah menjadi tumbal cinta tanah air. Mereka yang sekarang telah ada di
pusara tanpa batu nisan atau berada di balik taman makam pahlawan, tahu
betul apa arti cinta tanah air sehingga dibela sampai mati.
Apabila cinta harus memperlihatkan imbalan
atas pengorbanan yang dikeluarkan sehingga tidak dikatakan kebodohan
yang harus ditinggalkan. Lalu, seperti apa cinta yang pintar agar
senantiasa berada dalam dekapan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar